Saturday, March 7, 2009

Respon perancangan bangunan terhadap isu pemanasan global

“ Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai”

Global Warming issue dalam “perkembangannya”


“Pentingnya kesadaran para arsitek dalam merancang lingkungan binaan yang mempunyai kontribusi terhadap alam sebagai tempat yang menyediakan tempat untuk menuangkan idealis.”


Tim Panel Iklim PBB mengemukakan pernyataan resmi pada tanggal 29 Maret 2008 bahwa gunung es seluas 5000 mil di lingkar kutub terancam meleleh akibat meningkatnya suhu bumi. Bahkan waktu untuk menekan suhu bumipun sangat pendek. Menakutkan bukan?. Efek dari perubahan iklim sendiri sesungguhnya juga telah dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Berbagai bencana telah melanda dan menimbulkan korban. Kenaikan suhu bumi membuat kian banyak korban jiwa berjatuhan akibat gelombang panas, banjir, badai, kebakaran hutan, dan kekeringan. Tanpa disadari, walaupun Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penghasil emisi dalam jumlah kecil, juga tidak terlepas dari tanggung jawab dalam kelestarian lingkungan. Ancaman banjir dan longsor meningkat, musim tanam berubah, gunung meletus, dan musim kemarau yang berkepanjangan. Tetapi ancaman yang lebih besar adalah keberadaan kepulauan Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia menjadi kawasan rawan tenggelam akibat naiknya permukaan air laut sebagai dampak mencairnya gunung es di kutub. Selain dampak tersebut di atas, pemanasan global juga membawa pengaruh terhadap faktor kesehatan. Di samping itu, apabila berbicara mengenai dampak lingkungan seperti pola cuaca yang tidak menentu, suhu udara semakin meningkat, bencana banjir dan tanah longsor, bahkan hingga bencana tsunami yang belakangan rajin mampir ke wilayah Indonesia. Isu Pemanasan Global (Global Warming) menuntut berkembangnya peran Arsitek dan Perencana Kota dalam mengelola pembangunan kotanya. Arsitek bersama komunitasnya harus tampil menghasilkan solusi besama. Arsitek juga diharapkan berperan dalam menghasilkan semangat dan komitmen untuk menyikapi berbagai permasalahan kota kedepannya dan menindak lanjutinya dengan berbagai kegiatan nyata perancangan dalam memberikan kontribusi bagi penyelamatan bumi kita tercinta.

Peran arsitek dalam Global warming n “warning” issue

Contoh perencanaan kawasan yang mempertimbangkan faktor lingkungan binaan sebagai jawaban dari ruang hijau yang hilang.

“Arsitek masa kini dan masa depan harus memahami serta menguasai strategi perencanaan bangunan yang mampu meminimalkan penggunaan energi BBM (bahan bakar minyak) untuk meniadakan proses pemanasan bumi," ujar pengajar arsitektur Universitas Tarumanegara Jakarta Tri Harso Karyono pada Seminar Arsitektur "Peran Arsitek dalam Membakar Bumi". Saat ini, hampir semua teknologi modern yang digunakan manusia sangat bergantung pada sumber energi BBM. Pembakaran minyak bumi dalam jumlah besar secara kontinu akan menghasilkan polutan karbondioksida (CO2) yang diduga menjadi penyebab terjadinya pemanasan global. Bangunan modern cenderung boros BBM untuk memenuhi kenyamanan fisik manusia di dalamnya. Dari tangan arsitek bisa ditentukan apakah kota dan bangunan yang dirancang akan hemat energi atau sebaliknya, konsumtif terhadap BBM.
Tak satu pun gedung pencakar langit di Indonesia memiliki ciri bangunan iklim tropis, apalagi didesain dengan arsitektur khas Indonesia. Sebaliknya, tidak mudah juga menerapkan arsitektur tropis pada gedung-gedung bertingkat tinggi di Indonesia. Hal itu karena kaca jendela di ruang gedung lantai atas harus tertutup rapat untuk mencegah masuknya tiupan angin yang keras. Akibatnya, udara di bagian dalam ruangan akan menjadi lebih pengab. Solusi yang dilakukan oleh kebanyakan pengembang adalah memasang pendingin ruangan (air conditioning/AC). Padahal, penggunaan pendingin ruangan yang memakai bahan pendingin (refrigen) dari CFC (chloro fluoro carbon) dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon di atmosfer. Akibatnya, radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi tak bisa menembus atmosfir tak terperangkap di permukaan bumi sehingga meningkatnya suhu permukaan bumi atau terjadilah pemanasan global.
Kecenderungan pola pemikiran antroposentrism para arsitek dalam perencanaan dan perancangan bangunan pada beberapa dekade terakhir, telah memberikan salah satu kontribusi besar dalam percepatan perubahan (atau lebih tepatnya rusak?) iklim dunia. Dosa kebanyakan para arsitek adalah kecenderungan yang lebih mendahulukan ideologi visual dan kepentingan manusia itu sendiri ketimbang alam yang menyediakan tempat untuk mereka, kita untuk menuangkan egoisme yang biasa kita sebut orientasi pada kepentingan pengguna, atau demi kepentingan visual, dan sebagainya dalam proses perencanaan dan perancangan. Sebagai contohnya adalah perancangan rumah pintar terkomputerisasi di Belgia dan merupakan rancangan salah seorang arsitek yang saya kagumi, Zaha Hadid. Sangat ironis saat manusia dihadapkan pada masakah krisis energi dan peningkatan suhu bumi rumah tersebut mendapat predikat rumah masa depan, atau rumah idaman. Padahal kita tahu dalam penggunaan rumah yang sarat dengan komputer interaktif tersebut akan menyedot daya kosumsi bangunan yang sangat tinggi. Tak sedikit pula arsitek yang peka dalam memenuhi tuntutan isu-isu lingkungan yang berkembang belakangan ini. Telah ada usulan-usulan arsitektural yang berkaitan dengan inovasi-inovasi produk properti yang ramah lingkungan dalam upaya menekan proses pemanasan global.


Bagian dari kota Boston, USA. Terlihat kurangnya area terbuka yang disebabkan oleh perkembangan kota.

Berikut adalah beberapa solusi faktor yang dapat diterapkan atau dijadikan acuan perencanaan dan perancangan terkait dengan isu-isu lingkungan.
A. ruang hijau dalam bangunan sebagai pengganti area hijau yang hilang



Ruang hijau dalam bangunan biasanya diwujudkan dalam bentuk taman, baik dalam bangunan maupun konsep atap hijau yang biasa dikenal dengan istilah green roof. Green roof pertama kali dikembangkan di tanah Eropa. Konsep ini biasa digunakan pada konteks kota yang padat dan minim ruang hijau yang biasanya digunakan sebagai ruang publik sehingga ruang hijau yang terbentuk di tanah hanya merupakan ruang sisa dari perancangan. Penerapan ruang hijau pada atap tak lepas dari kemajuan teknologi khususnya adanya penemuan-penemuan yang bahan pendukung baik bahan baru maupun komposit yang mendukung dalam kegiatan rancang bangun.



Detail flat roof garden quad deck



Keuntungan pemakaian green roof :
a. Memperbaiki kualitas udara dan mengikat karbondioksida.
b. Memperbaiki kondisi iklim mikro yang dapat membantu kehidupan alam seperti burung.
c. Membantu dalam menjaga kestabilan suhu pada bangunan sehingga mengurangi penggunaan AC dengan kata lain mengurangi pemakaian energi pada bangunan.
d. Dapat digunakan sebagai pengganti ruang publik yang hilang akibat sempitnya lahan.
e. Dapat memperlambat jalannya penyebaran api saat kebakaran karena terdapat tanah yang dapat membantu memadamkan api.



Seiring semakin majunya teknologi, penggunaan ruang hijau pada bangunan tidak hanya bidang horizontal saja (flat), tetapi juga vertikal. Penggunaan area hijau secara vertikal biasanya lebih banyak digunakan sebagai kulit bangunan eksterior. Hal yang menjadi esensi utama dalam penggunaan area hijau dalam bangunan adalah tumbuhan mengikat Co2 atau karbondioksida dan menghasilkan udara bersih untuk manusia. Itulah yang menjadi hal terpenting digunakannya area hijau sebagai bagian elemen arsitektur, tak hanya sebagai bagian dari estetika semata. Penerapan konsep ruang hijau dalam bangunan sebenarnya juga sudah berkembang di Indonesia, walaupun masih pada tingkat hunian seperti karya dari Adi pada Cipete House.
Hanya dalam tahun 1996, Pemerintah Jerman berhasil menghijaukan atap seluas 28,8 hektar, dan di setiap kotanya 1 dari 10 atap flat kini berhasil dihijaukan. Sejak tahun 2000, Pemerintah Hongkong dan Jepang mewajibkan pengelola gedung menghijaukan atap minimal 20 persen dari total luas atap bangunan atau berkisar 250-1000 meter persegi. Jadi, kapan Indonesia?

A. Bangunan hemat energi: rancangan pasif dan aktif

1.Hemat Energi secara pasif



Bangunan yang kita tinggali merupakan salah satu penyumbang terbesar dalam penggunaan bahan bakar fosil dunia. Sebagai contoh agar udara panas tidak masuk ke dalam bangunan, udara luar yang panas dimodifikasi bangunan dengan bantuan AC agar menjadi udara dingin. Dalam hal ini dibutuhkan energi listrik untuk menggerakkan mesin AC. Demikian juga halnya bagi penerangan malam hari atau ketika langit mendung, diperlukan energi listrik untuk lampu penerang. Penghematan energi melalui rancangan bangunan pasif mengarah pada penghematan penggunaan listrik, baik bagi pendinginan udara, penerangan buatan, maupun peralatan listrik lain. Dengan strategi perancangan pasif, bangunan dapat memodifikasi iklim luar yang tidak nyaman menjadi iklim ruang yang nyaman tanpa banyak mengonsumsi energi listrik. Desain arsitektur yang lebih mengandalkan sinar matahari, pengurangan penggunaan listrik di siang hari dapat diwujudkan dalam bentuk perancangan yang beorientasi pada arah matahari. Jadi dengan demikian pemahaman tentang bangunan hemat energi secara pasif dapat diartikan sebagai perencanaan dan perancangan suatu karya arsitektur yang sadar betul akan keadaan/potensi iklim sekitar (matahari,angin, pohon, site,dll) yang dapat diaplikasikan demi kenyamanan pengguna dalam bentuk pencahayaan alami dan penghawaan alami dll. Akhirnya berimbas pada penekanan penggunaan komsumsi energi secara berlebihan.



Strategi perancangan bangunan secara pasif di Indonesia bisa dijumpai terutama pada bangunan lama karya Silaban: Masjid Istiqal dan Bank Indonesia; karya Sujudi: Kedutaan Prancis di Jakarta dan Gedung Departemen Pendidikan Nasional Pusat; serta sebagian besar bangunan kolonial karya arsitek-arsitek Belanda. Meskipun demikian, beberapa bangunan modern di Jakarta juga tampak diselesaikan dengan konsep perancangan pasif, seperti halnya Gedung S Widjojo dan Wisma Dharmala Sakti, keduanya terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Contoh firma di Indonesia yang beberapa tahun belakangan ini sadar betul akan pentingnya penerapan konsep hemat energi (pasif) di Indonesia adalah P.T Archimetric dengan Jimmy Priatman selaku president director dan principal architect. Karya bangunan hemat energi beliau tidak hanya diakui di Indonesia tetapi juga di ASEAN, terbukti beliau telah beberapa ASEAN Save Energy Award. Salah satunya adalah Graha Wonokoyo di Surabaya. Konsumsi listrik pada bangunan ini luar biasa hemat, hanya 88 kwh per M2. Adanya rekayasa pasokan panas membuat overall thermal transfer value (OTTV) atau jumlah panas yang masuk ke dalam ruangan hanya setara22,8 watt per M2. Sangat jauh dibawah standar ACE yang menetapkan OTTV untuk bangunan hemat energi sebesar 45 watt per M2.
Karya arsitektur untuk konteks hemat energi secara pasif untuk rumah tinggal dapat kita lihat pada Nugroho Residence karya Adi Purnomo. Rumah tersebut berhasil memecahkan masalah kenyamanan thermal pengguna dalam hal penghawaan alami dan pencahayaan alami. Memang tingkat kenyamanan thermal pengguna tidak terukur secara statistik seperti grha Wonokoyo, tetapi terbukti berdasarkan pernyataan penguna dan diikut sertakan bangunan ini dalam Aga Khan Award.

Nugroho residence (exterior)


Nugroho residence (Interior)

b. Hemat energi secara aktif : solar sel


Energi Solar Cell adalah solusi pengembangan teknologi pembangkit listrik tenaga surya yang ramah lingkungan dan alternative mengurangi ketergantungan energi yang dihasilkan dari minyak bumi, batu bara, gas panas bumi, nuklir yang dapat mempercepat Pemanasan Suhu Bumi/merusak lingkung. Dalam rancangan aktif, energi matahari dikonversi menjadi energi listrik sel solar, kemudian energi listrik inilah yang digunakan memenuhi kebutuhan bangunan. Dalam perancangan secara aktif, secara simultan arsitek juga harus menerapkan strategi perancangan secara pasif. Tanpa penerapan strategi perancangan pasif, penggunaan energi dalam bangunan akan tetap tinggi apabila tingkat kenyamanan termal dan visual harus dicapai. Kabar terbaru dari teknologi ini adalah cahaya matahari yang diserap oleh panel telah mencapai 75%.

Technology Solar Energy terdiri dari dua kategori:
• SOLAR THERMAL adalah memanfaatkan panas matahari untuk menghasilkan panas, contohnya Sistem Pemanas Air Tenaga Surya.
• SOLAR PHOTOVOLTAIC adalah memanfaatkan cahaya/sinar matahari untuk menghasilkan listrik, istilah yang banyak dipakai: PLTS-Pembangkit Listrik Tenaga Surya, atau Solar Cell, atau Solar PV, atau PV. Manfaat dari Solar Cell : - Untuk kebutuhan Listrik skala-skala kecil. - Untuk Back-up dan cadangan listrik. - Untuk Kebutuhan skala menengah.
Strategi perancangan aktif dalam bangunan dengan sel solar belum banyak dijumpai di Indonesia saat ini, di internet telah banyak perusahaan di Indonesia yang menawarkan produk dengan lisensi tertentu beserta instalasinya. Kebanyakan penggunaan sel solar masih terbatas pada kebutuhan terbatas bagi penerangan di desa-desa terpencil Indonesia.
Contoh kasus yang berkaitan dengan solar sel yang saya angkat adalah BP solar Pavilion yang dibuat di Birmingham, Inggris yang kemudian dipindahkan ke Baglan Bay BP facility di Wales.dengan kata lain karya dari Arup Associates ini merupakan mobile building. Pada bagian atap digunakan 176 photovoltaic cell guna menyerap energi matahari. Media panel tenaga surya yang diterapkan pada bangunan ini persis dengan yang ada pada panel solar cell pada satelit antariksa.



B. Pengelolaan Limbah rumah tangga



Satu lagi yang tak kalah penting dalam menjawab tantangan perancangan terhadap isu-isu lingkungan adalah bagaimana kemampuan bangunan itu mengelola limbah dari hasil aktivitas manusia yang menghasilkan limbah rumah tangga. Contohnya seperti permasalahan sampah yang tak terselesaikan di kota Jakarta, kadar air tanah di lingkungan perkotaan yang mengandung bakteri E colli (indikasi dari pencemaran kotoran manusia terhadap sumber air bersih). Buruknya infrastruktur sanitasi kita memaksa para arsitek tak hanya mengandalkan riol kota untuk mengatasi permasalahan sanitasi pada bangunan. Sebaiknya para arsitek diharapkan dapat memikirkan bagaimana bangunan tersebut dapat mengelola limbah rumah tangganya secara mandiri tetapi tanpa (banyak) merusak keadaan lingkungan di dalam tanah.


Contoh yang dapat kita angkat adalah pemukiman marginal di tepian air di tepian sungai Gajah Wong. Buruknya sanitasi pengelolaan limbah di pemukiman (liar?) di tepian itu seperti menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan sampah dan kebiasaan tidak sehat yang menggunakan air sungai sebagai tempat mandi jelas menjadi salah satu pemicu tercemarnya kualitas air sungai dan kesehatan penduduk itu sendiri.
Disini dapat kita lihat bagaimana pencemaran lingkungan yang terjadi sehingga dapat mempengaruhi kualitas air bersih di Yogyakarta. Sistimatika seperti ini, pembuangan limbah rumah tangga yang mengalir ke sungai yang kemudian meresap ke dalam tanah atau melalui pengelolaan perusahaan air minum sendiri yang kemudian digunakan oleh sebagian besar oleh penduduk Yogyakarta sebagai air minum. Seperti yang telah dijelaskan tentang bakteri E colli yang akan berdampak pada penurunan kondisi orang yang terjangkit seperti diare, ispa,tuberkolosis, dll. Semua hal diatas dapat menyebabkan kematian.



Esensi peran arsitek di jaman modern adalah membantu meningkatkan kualitas hidup manusia agar tercipta kehidupan yang layak bagi semua orang tak terkecuali masyarakat miskin. Peran arsitek sendiri dalam perbaikan sanitasi adalah memikirkan dampak aktivitas bangunan yang dirancangnya terhadap lingkungan tempat bangunan itu didirikan. Sehingga pentingnya seorang arsitek untuk memahami betul utilitas pada bangunan secara teori dan terapan agar dapat menjadi faktor pertimbangan dalam perancangan.

Kesimpulan
Penerapan tiga faktor di atas telah dilakukan di beberapa kota maju di Eropa, seperti kota PBerlin di Jerman. pemerintah Jerman mengajak para arsitek, ahli landscape, dan tata kota untuk memikirkan perancangan bangunan yang beorientasi pada iklim local dan mempunyai kontribusi bagi sanitasi kota. jadi pada gambar skematik dibawah dapat kita keterkaitan erat bangunan kawasan sekitarnya. Semoga catatan singkat ini dapat memberikan pengetahuan pada kita akan pentingnya peran kita sebagai seorang arsitek dalam upaya penyelamatan bumi kita dengan cara merancang bangunan yang beorientasi pada isu-isu lingkungan. Mudah mudahan posting ini berguna buat para masbro semua. Dukung hijau Indonesiaku.



Daftar Pustaka

Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Laporan dan Makalah Diskusi Nasional "Pembangunan Kota yang Partisipatif & Berkelanjutan bagi Kepentingan Publik".
Literatur Etika Kristen, sub bahasan : Etika Lingkungan hal, 10
Bangunan hemat energi: rancangan aktif danpasif, http://www.silaban.net/category/artikel-lepas/lingkungan/hemat_energi
Sirkulasi untuk hemat energi, http://www.kompas.com /kesehatan/news/0508/05/115527.htm
P.T Archimetric,I-Arch, twelfth issue 2007 hall 104.
Tri Harso Karyono, Seminar Arsitektur "Peran Arsitek dalam Membakar Bumi", 06 September 2007.
King Country Green Roof Study for Office Project, Paladino Green Roof Strategies. Pdf
www.delston.co.uk/roofcovering/greenroof diakses tanggal 1 April 2008.
www.usemenow.com/web-lock/greenroof diakses tanggal 1 April 2008.
Rusminto Djatur Widodo (EEPIS-ITS),Indosat-m2.com, Solar Sel sumber energi masa Depan yang ramah lingkungan.
www.corrosion-doctor.org/solar/images/solar.j diakses tanggal 28 Maret 2008.
www.lbl.gov/Science-articles/archive/assets diakses tanggal 28 Maret 2008.
Sanitasi sebagai Tanggung Jawab Bersama, Konferensi Sanitasi Nasional 2007, Majalah PERCIK edisi oktober 2007.
Portfolio Arum Associates, BP Solar Pavilion.pdf
Adi Purnomo, http://archnet.org/library/parties/one-party.jsp?party_id=1230, diakses tanggal 1 April 2008.
Survey dan analisa penulis.

No comments:

Post a Comment

thanx buat saran, kritikan, cacian apa lagi pujiannya..

Post a Comment